Film Tuwaga Karya Mahasiswa FDIK Esa Unggul Masuk Enam Besar di Ajang Festival Sinema Australia

Film Tuwaga Karya Mahasiswa FDIK Esa Unggul Masuk Enam Besar di Ajang Festival Sinema Australia




Para Mahasiswa FDIK saat menjadi Peserta di Ajang Festival Sinema Australia

Para Mahasiswa FDIK saat menjadi Peserta di Ajang Festival Sinema Australia

Esaunggul.ac.id, Jakarta Barat, Film Tuwaga kembali meraih prestasi, setelah mendapatkan predikat sebagai Film terbaik dalam ajang UI Film Festival, Film garapan mahasiswa Fakultas Desain dan Industri Kreatif ini berhasil masuk ke enam besar finalis Festival Sinema Australia yang diadakan oleh Keduataan Besar Australia.

Tuwaga ini merupakan Film yang digarap oleh empat mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Esa Unggul, mereka itu ialah Ibnu Hasan DKV 2015, Ahmad Fazri Rafsanjani DKV 2016, Muhammad Iqbal DKV 2016 dan Andre DKV 2016. Sutradara Film Tuwaga Ibnu Hasan menceritakan mengenai konsep dibuatnya Film Tuwaga.

Tuwaga merupakan sebuah Film bergenre Horor, Ibnu melanjutkan, cerita Tuwaga berawal dari tokoh sanny yang diculik nyai nyumput saat bermain petak umpat bersama temannya ketika menjelang maghrib. Penokohan Nyai Nyumput sendiri di Film ini ialah seorang nenek yang hidup pada tahun 1850, konon dahulunya Nyai Nyumput menghilang saat menjelang maghrib ketika bersembunyi dari kejaran tentara belanda yang menculik cucu-cucunya.

Ibnu Hasan dan Salah Satu mahasiswa DKV memamerkan Penghargaan yang didapatkan

Ibnu Hasan dan Salah Satu mahasiswa DKV memamerkan Penghargaan yang didapatkan

Ibnu pun menambahkan Tuwaga sendiri diambil dari hitungan yang biasa di gunakan ketika bermain petak umpet.” Nama Tuwaga itu asalnya kita ambil dari hitungan petak Umpet, orang indonesia gemar menghitung dengan menyebutkan kalimat akhirnya saja seperti satu, dua, tiga menjadi tu,wa,ga.” ujar Ibnu di Universitas Esa Unggul beberapa waktu lalu.

Dirinya pun menjelaskan Pengerjaan dari Film ini sendiri menghabiskan waktu hingga 1 minggu, mulai dari Pra Produksi hingga pasca produksi. Selain dikerjakan oleh tiga temannya yang berasal dari DKV, dalam produksi ini juga dibantu oleh 10 crew.

Ibnu pun berharap dengan keberhasilan Tuwaga mengikuti ajang Festival Film, dapat meningkatkan karya yang lebih baik bersama teman-temannya. “Keberhasilan Film Tuwaga ini merupakan pelecut semangat bagi kami mahasiswa Esa Unggul untuk kembali memproduksi film yang berkulitas, sehingga memberikan tontonan yang positif kepada masyarakat, selain itu ini merupakan pengalaman berharga bagi kami kedepannya,” tutup Ibnu.

Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) telah digelar oleh Kedutaan Besar Australia pada 25-28 Januari lalu. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, FSAI 2018 diselenggarakan secara serentak di empat kota, yakni Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Denpasar.

Bukan hanya film Australia, sejumlah film Indonesia terbaik juga akan diputar selama FSAI 2018 berlangsung. Film-film tersebut, yakni ‘Marlina The Murderer in Four Acts’, ‘Melawan Takdir’, ‘Melbourne Rewind’, dan ‘Nunggu Teka’. Setiap tahunnya, FSAI juga berupaya mendukung bakat para sineas muda melalui Kompetisi Film Pendek.

Enam film yang menjadi finalis, yakni ‘Amak (Ibu)’, ‘The Last Day of School‘, ‘The Letter‘, ‘Rep-repan’, ‘Pranata Mangsa’, dan ‘Tuwaga (Under Wraps)’. Keenam film itu akan ditampilkan selama festival untuk kemudian memenangkan penghargaan Film Pendek Terbaik dan Pilihan Penonton.

Dengan prestasi yang didapatkan oleh para mahasiswa Desain dan Industri Kreatif di ajang Ui Film Festival dan Festival sinema Australia, ini membuktikan Universitas Esa Unggul sebagai Institusi Pendidikan Tinggi mendorong para mahasiswanya untuk selalu melakukan kegiatan kreatif dan inovatif sesuai dengan passion para mahasiswanya sehingga para mahasiswa mampu berprestasi dengan kemampuan yang dimilikinya baik secara akademik maupun non-akademik. Sesuai dengan motto Esa Unggul mencetak insan Smart, Kreatif dan Enterpreneurial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *