Peranan Perguruan Tinggi Dalam Membangun Ibukota Jakarta – Cermah Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta

Peranan Perguruan Tinggi Dalam Membangun Ibukota Jakarta – Cermah Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta

Share

Disampaikan Oleh : Sutiyoso

Gubernur DKI Jakarta

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera untuk kita semua.

Marilah kita kembali bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat hadir pada acara Wisuda Semester_Genap tahun 2005 Universitas INDONUSA Esa Unggul.

 Memenuhi permintaan [Sivitas Akademika Kampus Emas Universitas INDONUSA Esa Unggul, saya diminta menyampaikan ceramah, dengan judul “Peranan Perguruan Tinggi dalam Ibukota Jakarta” Saya menyebutnya bukan sebagai “orasi ilmiah”, karena materi ceramah yang akan saya sampaikan, bukan merupakan hasil kajian ilmiah, tetapi murni dari pengalaman saya sebagai Gubernur Provinsi DKI Jakarta yang mendapat kepercayaan untuk memimpin Ibukota Negara ini selama hampir delapan tahun terakhir ini.

Tata urut ceramah ini terbagi menjadi dua hal pokok:

Pertama, mengenai gambaran ringkas tentang pembangunan Jakarta, dengan maksud untuk memberikan informasi aktual mengenai kondisi obyektif hasil pembangunan Jakarta selama delapan tahun terakhir (1997 -2005).

Kedua, peran Perguruan Tinggi dalam membangun Jakarta, dengan substansi, sejauhmana Perguruan Tinggi dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan di Jakarta Ibukota Negara.

Pertama gambaran ringkas tentang pembangunan Jakarta

Saya sebut sebagai periode survival masa awal masa bakti, saya dihadapkan pada tantangan yang sangat berat (sehingga saya ibaratkan “bagai mendayung diantara karang”). Catatan dibawah ini memberikan gambaran, betapa berat tantangan yang harus saya hadapi. Mungkin sulit untuk diungkapkan dengan kata- kata, tetapi dukungan data / informasi berikut ini, dapat menjelaskan mengenai kondisi obyektif waktu itu.

Krisis ekonomi yang sernpat mengakibatkan APBD DKI Jakarta tahun 1997/1998 turun drastis,

dari Rp(3/f)triliun menjadi Rp.1,2 triliun, dengan nilai tukar rupiah yang merosot tajam, karena konversi dengan dolar AS yang waktu itu sangat tinggi. Pertumbuhan ekonomi Jakarta merosot tajam, hingga mencapai minus 17,49 %. Angka inflasi sangat tinggi, mencapai 74,42%

Peristiwa Mei 1998 yang sempat memporak-porandakan perekonomian Kota Jakarta, sehingga kehidupan ekonomi masyarakat menjadi sangat berat, daya beli masyarakat menurun tajam, disiplin sosial merosot dan sttuasi keamanan ketertiban tidak stabil. Tahun 1999 menjelang Pemilu, kondisfjaKarta hampir dikatakan mendekati “chaos” Aksi demo yang disertai dengan pengrusakan-pengrusakan fasilitas kota, hampir setiap hari terjadi.

Sementara pihak menilai waktu itu di Jakarta beiiaku “hukum rimba.” Citra sebagai bangsa yang beradab, berbudaya, sopan, berubah menjadi bangsa barbarian. Citra bangsa Indonesia waktu itu di mata dunia internasibnal menjadi hancur. Hal ini terlihat pada saat Gubemur berkunjung ke “Konferensi Kota-kota Metropolitan di Tokyo” waktu itu.

Ketika itu menjelang Pemilu, Jakarta diramalkan akan kembali bergolak, kacau, dan akan terjadi peristiwa yang berdarah-darah, seperti Peristiwa Mei 1998. Masa kampanye 48 partai yang terjadi di Ibukota, memang memanaskan situasi yang membuat warga kota cemas dan was-was.

Tetapi kita bersyukur Pemilu Juni 1999 akhirnya berlangsung dengan tertib, lancar dan sukses, sehingga mendapat pujian dari pengamat independen internasional mantan Presiden AS Jimmy Carter.

Tahun 2000, 2001, dan 2002, perekonomian Jakarta mulai bangkit, terus meningkat secara signifikan, karena keamanan – ketertiban di Ibukota, walaupun diwarnai dengan ancaman-ancaman teror bom, namun secara keseluruhan tetap dalam keadaan kondusif.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2000 mencapai 3,98 persen, tahun 2001 mengalami penurunan sedikit menjadi 3,64 persen, tahun 2002, naik menjadi 3,87 persen (memasuki periode masa bakti kedua, 2002 – 2007,

pertumbuhan ekonomi tahun 2004 4,6 persen dan tahun 2005 diperkirakan akan mencapai 5,2 persen. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi itu, APBD Propinsi DKI Jakarta juga terus mengalami kenaikan, dan pada tahun 2005 ini diperkirakan akan mencapai Rp. 13,8 triliun.

Periode masa bakti 1997-2002, seiring dengan gejolak ekonomi yang memicu terjadinya gejolak politik dan kemudian berakumulasi menjadi krisis multidimensional, juga tercatat beberapa peristiwa penting lainnya, antara lain:

Masa bakti lima tahun pertama, saya mengalami berada di bawah empat Pimpinan Nasional, dengan pergantian Presiden tiga kali. Pergantian Kabinet sebanyak empat kali. Pergantian Pangdam, Kapolda antara enam sampai delapan kali. Peristiwa Mei 1998 merupakan noda hitam bagi Jakarta yang belum pernah dialami sebelumnya. Peristiwa banjir lima tahunan yang terbesar (Januari 2002). Catatan aksi /Semoj yang spektakuler, mencapai ribuan kali (rata-rata di atas 1.200 kali setiap tahun, atau sekitar empat kali aksi demo setiap hari).Yang tidak kalah menarik adalah proses pemilihan Gubernur yang sempat menimbulkan aksi unjuk rasa yang mengepung Kantor Gubernur dan Gedung DPRD

(September 2002). Dalam proses pemilihan ini, untuk pertama kalinya dilaksanakan secara demokratis, terbuka dan transparan, serta disiarkan langsung oleh media televisLswasta Ibukota.

 Hasil pembangunan 1997-2002 yang disajikan secara komprehensif dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur, dengan segala kekurangan dan kelebihannya diterima dan disetujui oleh DPRD Propinsi DKI Jakarta. Terlepas dari hal-hal yang bersifat politis, dengan diterimanya LPJ tersebut, merupakan bukti bahwa kinerja selama lima tahun telah membuahkan hasil.

Semua peristiwa tersebut diatas, sementara pihak menyebutnya sebagai peristiwa besar yang belum pernah dialami Gubernur-Gubernur lain, barangkali dapat masuk ke Guinness book of record (beberapa waktu yang lalu, saya mendapat penghargaan dari sebagai Gubernur yang mengalami mas a pemerintahan lima periode).

Periode masa bakti kedua 2002-2007.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang terus membaik, iklim investasi yang meningkat, dan dunia usaha yang terus berkembang, APBD DKI Jakarta terus meningkat secara signifikan (tahun 2005 ini mencapai Rp.13,8 triliun dan diprediksikan pada tahun 2007 menembus angka Rp.20 triliun).

Dengan perekonomian Jakarta yang makin membaik, setelah periode survival kita lewati, Pemprov DKI Jakarta mulai memberi perhatian terhadap program-program pembangunan kota dan program pemberdayaan masyarakat lainnya.

Visi Pembangunan Jakarta 2002-2007 : “Terwujudnya Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia yang manusiawi, efisien dan berdaya saing global. dilnmi oleh masvarakat yang “partisipatif, berakhlak. yang sejahtera,dalam lingkungan kehidupan yang aman dan berkelanjutan”

Untuk membangun Jakarta yang makin representatif dan kompetitif, agar sejajar dengan kota-kota besar lain didunia, minimal di Asia Tenggara, sesuai dengan RENSTRADA 2002-2007, disusun program-program pembangunan yang mendapat prioritas tinggi, yang disebut dengan Dedicated Program .

Dapat saya sebutkan beberapa diantaranya :

Transportasi kota.

Lebih dari tiga dasawarsa kondisi transportasi Jakarta memprihatinkan. Gambaran mengenai kondisi transportasi di Ibukota:

- Jumlah 4,5 juta kendaraan. Roda 4: 2,5 juta selebihnya roda 2 dengan pertumbuhan 11 per sen per tahun.

- Perbandingan jumlah mobil pribadi dan angkutan umum 98% berbanding 2%.

- Perbandingan penggunaan mobil pribadi dan angkutan umum 49,7% ber banding 50,3%

- Pertambahan ruas jalan 1 per sen, beradaj auh di bawah pertumbuhan kendaraan yang mencapai 11%.

- Tambahan kendaraan dari Botabek 600.000 unit setiap hari masiik Jakarta,

- Tambahan 138 kendaraan baru pada tahun 2003 dan 226 unit pada tahun 2004, apabila di jajar menyita jalan sepanjang 800 meter. (Satu buIan kalikan 30, satu tahun dikali 365).

Menurut perhitungan para pakar, apabila kondisi tersebut dibiarkan dan tidak segera ditangani, pada tahun 2014, akan terjadi “kelumpuhan total” (mobil tidak dapat keluar rumah karena jalanan macet total).

Pola Transportasi Makro Jakarta Disusun oleh para pakar di bidang transportasi dari Perguruan Tinggi. Belajar dari pengalaman Bogota Kolombia, PTM merupakan integrasi dari empat system transportasi {busway, monorail, subway dan angkutan sungai). Busway setelah koridor I Blok M-Kota, akan disusun koridor II dan III (Kali Deres- Harmoni, Harmoni-Pulogadung) seluruhnya 15 koridor, Monorail sedang dalam proses pembangunan, menghubUngkan pusat-pusat perbelanjaan, sebagai angkutan massal yang bebas polusi, bebas kebisingan, menggunakan listrik Subway masih dalam tahap pembahasan. Angkutan sungai (dalam jangka panjang, menghubungkan Banjir Kanal Timur – Banjir Kanal Barat).

Pembangunan infrastruktur pendukung, seperti fly-over, underpass) dalam rangka mengurangi kemacetari di Ibukota (sejak tahun 2001 sampai 2004 telah terbangun 6 underpass dan 6 fly-over. Untuk tahun 2005′ ini, direncanakan akan dibangun 2 fly-over dan 1 underpass).

Penanggulangan banjir.

40 persen wilayah Jakarta di bawah permukaan laut , 13 sungai mengalir melintasi Jakarta. Ancaman banjir Jakarta datang dari berbagai penjuru (dari laut, BOPUNJUR, penyempitan/ pendangkalan sungai, cur ah hujan debit tinggi):

Rencana penanggulangan banjir

Sejak zaman Belanda sudah dirancang untuk menanggulangi banjir di DKI Jakarta dengan membangun Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur (dengan si stem “Taped Kuda”). Perencanaan penanggulangan banjir di DKI Jakarta dari waktu ke waktu terus disempurnakan dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi fisik, pertambahan penduduk / lingkungan Kota Jakarta

Upaya-upaya yang telah dan sedang dilakukan,antara lain:

 Untuk daerah-daerah rendah dengan si stem polder dan sistem pompa. Telah dibangun 33 stasiun pompa berikut waduk penampungnya. Pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT), memerlukan dana Rp.4,9 triliun; (Rp.2,4 triliun untuk pembebasan APBD DKI Jakarta, Rp.2,3 triliun untuk pembangunan fisik ‘ konstruksi APBN). Lahan-lahan yang telah dibebaskan, telah dilakukan penggalian dan untuk sementara difungsikan sebagai parkir air.

Pemprov masih terus berupaya untuk mempercepat pembebasan tanah, meskipun kendala yang dihadapi cukup besar, antara lain harga tanah jauh di atas NJOP / sulitnya mencapai rnusyawarah untuk memenuhi amanat Keppres Nomor 55, masih banyaknya tanah sengketa / kewajiban developer dan status kepemilikan / sertifikat tanah.

Penanganan sampah.

Volume sampah di Jakarta sangat besar ± 6.000 ton per hari. Sistem sanitary landfill memerlukan lahan yang sangat luas, dengan resiko pencemaran air tanah (kasus Bantar Gebang). Perlu dirubah dengan sistem teknologi canggih (balla press) -> TPST Bojong.

Salah satu contoh, pembangunan rumah susun terpadu yang berhasil di Cengkareng oleh Yayasan Budha Tzu Chi, bekerjasama dengan Pemprov / Perumnas.

  Pendidikan – kesehatan.

Anggaran di bidang pendidikan di DKI Jakarta, melalui APBD 2005 dianggarkan sebesar 20 persen dari total APBD, memenuhi amanat Undang-undang Sisdiknas.

• Memberi perhatian pada peningkatan kesejahteraan dan status guru.

• Memberi kan bantuan kepada siswa tidak mampu, dalam rangka mensukseskan Wajib Belajar 9 Tahun.

• Memberi kan bantuan kepada mahasiswa asal Aceh / Sumatera Utara korban tsunami.

• Pembangunan di bidang kesehatan, antara lainpemberian kartu sehat melalui program Jaminan

• Pemeliharaan Kesehatan bagi Keluarga Miskin (JPK-GAKIN).

• Penataan, pengindahan kota dan pelestarian lingkungan.

• Renovasi Air Mancur Bundaran HI.

• Penataan kawasan Monas.

• Pedestrianisasi Jalan Thamrin — Sudirman.

• Program Jakarta ijo royo-royo dan berkicau.

• Program Pengendalian Pencemaran Udara

 Perda Nomor 2 Tahun 2005 (Program Langit Biru). Untuk mendukung Program Langit Biru, telah ditandatangani MoU dengan PT Pertamina untuk memasok BBG bagi bus way dan kendaraan angkutan umum.

Pengendalian pencemaran limbah

 • Program Kali Bersih (PROKASIH).

• Pembuatan septic tank bekerjasama dengan PT Bernhard Malaysia.

Program Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan

PPMK merupakan dana bergulir tanpa bunga atas dasar prinsip tribina {bina fisik / lingkungan 60%; bina ekonomi 20 % dan bina sosial /30%).

Sebagian dipinjamkan kepada masyarakat untuk usaha kecil-kecilan rumah tangga (tukang cukur, pedagang bakso, tukang las dan lain-lain).

 Memang dulu pada saat awal tahun 2002, terjadi penyimpangan oleh oknum Dewan Kelurahan, tetapi sudah ditindak.

Pengawasan dilakukan oleh masyarakat dibantu LSM setempat. Dengan mekanisme pengawasan seperti ini, setiap penyimpangan secara mudah dapat diketahui (jumlahnya kecil, tidak begitu rumit

Sampai saat ini, dana (TPMKJ yang telah digulirkan per kelurahan (tahun 2002 Rp.250 juta; 2003 Rp.500 juta; 2004 Rp.750 juta dan tahun 2005 Rp. 1 miliar).

 Saudara-saudara sekalian,

Selanjutnya saya akan memasuki materi kedua yaitu mengenai peran Perguruan Tinggi dalam membangun Ibukota Jakarta.

Jakarta tidak memiliki SDA yang memadai, sehingga yang menjadi andalannya, peningkatan kualitas SDM. Lebih-lebih dalam menghadapi persaingan pada era globalisasi agar kita tetap survive, kualitas SDM merupakan kata kunci keberhasilan pembangunan.

Sebagai bukti besarnya perhatian dan komitmen Pemda terhadap dunia pendidikan, telah dialokasikan dana sebesar [20%)dari APBD DKI Jakarta tahun 2005 (merupakan provimi pertama di Indonesia).

Di Jakarta terdapat 275 Perguruan Tinggi Negeri / Swasta, dengan jumTaTi mahasiswa lebih dari 1 (satu) juta orang. Dari sisi kualitas, tidak diragukan lagi bahwa Perguruan Tinggi Negeri / Swasta di Jakarta berada setingkat diatas rata-rata nasional.

Pemprov DKI Jakarta telah mengembangkan kerjasama dengan Perguruan Tinggi Negeri / Swasta, baik di Jakarta maupun di luar DKI Jakarta (UNDIP, ITB, IPB, ITS dan Iain-Iain). Disamping itu juga dialokasikan dana melalui APBD DKI Jakarta untuk membantu sarana / prasarana dan peralatan bagi lembaga pendidikan tinggi termasuk bantuan kepada para mahasiswa NAD korban tsunami.

Dalam rangka pembinaan dan kerjasama dengan Perguruan Tinggi, sesuai dengan kewenangan otonominya, berbagai hal yang terkait dengan urusan dengan Perguruan Tinggi, ditangani oleh Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta.

Peran yang diharapkan dari Perguruan Tinggi dalam pembangunan Jakarta. Sebagai mitra Pemda, memberikan masukan (kritik, saran) yang positif / konstruktif terhadap pelaksanaan pembangunan di DKI Jakarta.

Catatan :

• Perguruan Tinggi diikutsertakan dalam proses perencanaan/MUSRENBANG untuk menyusun Rencana___Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

• Berpartisipasi dalam program-program pemberantasan narkoba, HIV/AIDS, DBD Iain-lain.

• Berperan-serta dalam program-program pelestarian lingkungan (penghijauan, pencemaran udara, penanganan limbah dan memberikan dukungan terhadap kampanye bebas rokok).

• Berperan-serta dalam program-program sosial kemasyarakatan.

Catatan :

Gubernur memberikan penghargaan kepada Sivitas Akademika Universitas INDONUSA Esa Unggul yang telah mencanangkan bebas rokok di lingkungan kampus (jauh sebelum ditetapkannya Perda Nomor 2 Tahun 2006 tentang Pengendalian Pencemaran Udara).

Hadirin yang saya hormati,

Kepada para wisudawan Universitas INDONUSA Esa Unggul Semester Genap tahun 2005, atas nama pribadi dan atas nama Pemerintah Provinsi DKiJakarta, saya mengucapkan selamat.

Demikian ceramah yang saya sampaikan, mudah- mudahan ada manfaatnya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


-- Download Peranan Perguruan Tinggi Dalam Membangun Ibukota Jakarta – Cermah Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta as PDF --


Share

  • Comments
  • Trackbacks
Leave a Reply

2017 © Universitas Esa Unggul