Begini Loh Etika Penanganan Terhadap Hewan Uji Coba, Gak Boleh Sembarangan

Begini Loh Etika Penanganan Terhadap Hewan Uji Coba, Gak Boleh Sembarangan

Sejumlah mahasiswa yang memegang boneka Tikus Uji Hewan

Esaunggul.ac.id, Komisi Pengawasan Kesejahteraan dan Penggunaan Hewan Penelitian, Pengujian, penangkaran dan pendidikan, Drh. Fitriya N.A Dewi, Ph.D., Cert. LAM dalam materi kuliah tamunya di Universitas Esa Unggul, Jumat (10/05) lalu, mengatakan terdapat sejumlah penanganan yang dapat dilakukan seorang peneliti dalam penanganan dan Pengendalian Hewan Uji Coba seperti Mencit, Tikus dan Kelinci.


Drh. Fitriya N.A Dewi, Ph.D., Cert. LAM Pembicara Dalam Kuliah Tamu

Pertama sebelum memulai penanganan Hewan, Fitriya mengatakan sebaiknya menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai mengikuti prosedur yang berlaku dan mempertimbangkan resiko keselamatan kerja dan pastikan peniliti yang menjalankan uji hewan telah terlatih dalam hal ini tidak tergesa-gesa serta dapat memahami penanganan kecelakaan kerja apabila tergigit atau tercakar.

“Pastikan ketika anda melakukan Uji Coba, kalian sudah terlatih untuk melakukanya. Seorang peneliti yang melakukan uji hewan juga harus mengetahui dan memahami tingkah hewan yang diperiksa seperti mengetahui hewan sangat sensitif terhadap suara dan bau, hal tersebut dapat memancing agresifitas hewan, dan jangan membuat suara yang mengangetkan saat memasuki fasilitas hewan nokturnal dan perlu diingat hewan betina sangat protektif terhadap anak-anaknya,” ujar Fitriya.

Suasana Saat Penyerahan Pelakat

Dalam penanganan pada hewan terdapat prosedur yang berbeda-beda seperti pada mencit seorang peneliti harus mengamati level aktivitas hewan karena beberapa mencit sangat agresif, sebaiknya dalam melakukan uji hewan mencit tidak diangkat dengan cara mengambil/memegang pangkal ekor dengan jari. Sementara untuk kelinci, penanganan lebih ditujukan kepada kaki belakang dan penanganan terhadap tenaga kelinciyang lebih besar ketimbang mencit dan tikus. Perlu diingat jangan mengangkat atau merestraint hewan dengan memegang telinga.

Antusiasme Mahasiswa

Di akhir kuliah tamunya, Fitriya berharap kuliah tamu ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih banyak terhadap sejumlah mahasiswa Esa Unggul khususnya mahasiswa Program Studi Farmasi mengenai sejumlah teknik uji hewan. “mudah-mudahan kuliah tamu ini memberikan gambaran yang lebih banyak kepada para mahasiswa terkait sejumlah teknis uji hewan sesuai prosedur yang telah ditentukan, sehingga mahasiswa dapat bertindak profesional serta bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikerjakan,” tutupnya.

Kuliah tamu ini diselenggarakan oleh Program Studi Farmasi yang bertujuan untuk memberikan informasi serta pengetahuan bagi sejumlah mahasiswa Farmasi UEU agar mampu melakukan uji hewan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *