Realisasi Pendidikan Anak Merdeka : Sebuah Intervensi Sosial Dalam Pendidikan

Realisasi Pendidikan Anak Merdeka : Sebuah Intervensi Sosial Dalam Pendidikan

Share

Dra. Safitri, M.Si.
Dosen Fakultas Psikologi
Universitas Esa Unggul, Jakarta

 

 

 

Download

SD Hikmah Teladan di Cimahi, mempunyai misi dan visi menjadilkan anak didiknya menjadi anak merdeka. Misi dan visi ini telah dijabarkan dengan baik melalui intervensi dari MH Aripin Ali, seseorang yang merasa tidak puas dengan pendidikan di Indonesia. Melalui teknik intervensi modifikasi teknik  dan lobying, dihasilkan sebuah perubahan sosial pada pendidikan SDHT, sehingga sekolah adalah sebuah ruang ekspresi bagi semua  anak. Semua anak memilki hak untuk tumbuh sesuai bakat alaminya, Untuk melakukan itu, guru dan sekolah harus mampu membebaskan diri dari birokrasi pendidikan yang serba mau mengatur

Perjalanan menuju perubahan pendidikan anak merdeka adalah sebuah perjalanan perubahan perilaku dari anak didik dan agen peubah  terhadap satu pendidikan yang khusus, yang sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Friere (1981). Menurut teori tingkah laku terencana (theoriy of planned behaviour) yang pertama kali dinyatakan oleh Ajzen dan Fishbein (Ajzen, 1991 dalam Baron & Byrne, 2004) dan merupakan perluasan dari teori tindakan yang beralasan ,menyatakan bahwa keputusan untuk menampilkan tingkah laku tertentu adalah hasil dari proses rasional yang diarahkan pada suatu tujuan tertentu dan mengikuti urutan-urutan  berpikir. Pilihan tingkah laku dipertimbangkan, konsekuensi dan hasil dari setiap tingkah laku dievaluasi, dan dibuat sebuah keputusan apakah akan bertindak atau tidak. Kemudian keputusan itu direfleksikan dalam tujuan tingkah laku, dimana menurut Fishbein, Ajzen, dan banyak peneliti lain, seringkali menjadi prediktor yang kuat terhadap cara bertingkah laku dalam  situasi yang terjadi. Berdasarkan teori ini, intensi pada gilirannya ditentukan oleh tiga faktor (Baron & Byrne, 2004).  Pertama, sikap terhadap tingkah laku (attitudes toward a behavior), yaitu evaluasi positif atau negatif dari tingkah laku yang ditampilkan. Kedua, norma subjektif, yaitu persepsi orang apakah orang lain akan menyetujui atau menolak tingkah laku tersebut. Ketiga, kontrol tingkah laku yang dipersepsikan (perceived behavioral control), yaitu penilaian terhadap kemampuan sikap untuk menampilkan tingkah laku.

Teori  tingkah laku berencana dapat menjelaskan secara akurat dalam situasi dimana ada waktu dan kesempatan yang cukup untuk merefleksikan dengan hati-hati berbagai tingkah laku.. Tetapi dalam situasi yang harus bertindak cepat, maka sikap akan mempengaruhi tingkah laku dalam cara yang lebih langsung dan otomatis, yang dapat diterangkan oleh teori Fazio mengenai model proses sikap terhadap tingkah laku. (attitude-to-behavior process model, Fazio 1989, dalam Baron & Byrne 2004). Teori ini menjelaskan bahwa beberapa kejadian akan mengaktifkan sebuah sikap, dan akan mempengaruhi persepsi terhadap objek sikap. Pada saat yang bersamaan , pengetahuan tentang apa yang pantas dalam sebuah situasi juga diaktifkan. Jadi pada saat tidak ada waktu untuk mempertimbangkan, maka sikap mempengaruhi tingkah laku dengan membentuk persepsi terhadap situasi tersebut.

Menurut Philip Kotler, perubahan dalam suatu sifat atau performa individu, kelompok, industri atau masyarakat disebut perubahan sosial (social change), yang akan terkait dengan tindakan sosial (social action), yaitu usaha untuk mengurangi atau menyelesaikan problem .

Dalam perubahan sosial yang terencana, Garth N Jones (Zaltman, 1972) menekankan adanya tujuan bersama, kerjasama yang terarah antara social science operasional dengan sistem organisasi (komunitas, organisasi, individu dan kelompok), menggunakan metode ilmu pengetahuan dan teknologi secara systematik dan efektif, serta berdasarkan perencanaan yang matang, rasional, aktual, valid serta reliabel

Sedangkan pada tindakan sosial,  Philip Kotler (1972)  membagi atas 5 elemen yang berpengaruh:

  1. Penyebab perubahan (cause), yang dibedakan atas:
    • Penyebab untuk pertolongan(Helping causes), perubahan terjadi untuk membantu korban, tidak ada usaha untuk menjelaskan ke akar masalah. Perubahan dianggap tidak mungkin, tidak layak/mudah, atau tidak menyenangkan untuk dikerjakan oleh agency, karena konsentrasi agency adalah untuk menghibur atau memberikan pendidikan hanya untuk yang potensial

    • Penyebab karena protes (protes causes), terkait terhadap disiplin pada institusi yang bersalah, konsentrasi pada mengidentifikasi institusi yang banyak berkontribusi ke sosial

    • Penyebab Revolusioner, tujuan sosialnya mengeliminir institusi yang menyebabkan perubahan sosial

  2. Agen peubah (change agency), yaitu organisasi yang mencoba membuat perubahan sosial, bisa sebuh group formal, organisasi formal dan partai politik. Peran agen peubah dapat sebagai pemimpin atau pendukung

  3. Target perubahan (change target). Adapun target/sasaran yang akan diubah bisa individu, group dan institusi. Misalnya kaum miskin, perokok, ibiu-ibu, pengguna yang potensial dan lain-lain.
    Target juga bisa untuk kalangan tak terbatas atau terbatas ( misalnya publik, pemerintah, profesional

  4. Saluran (channel), bagian yang mempengaruhi dan meresponse antar change agent dan change target, yang dibedakan atas saluran yang berpengaruh seperti media massa dan selebaran-selebaran dan saluran respons misalnya telephone, email
  5. Strategi perubahan (change strategy), yaitu cara atau strategi yang dipakai oleh agen peubah untuk mempengaruhi target perubahan. Ada tiga cara strategi perubahan, yaitu
    • Power/Coercion/ kekerasan/ pak-saan, usah auntuk menghasilkan tingkah laku yang patuh atau dapat bekerjasama dalam mencapai target dengan kontrol berupa sanksi
    • Persuasi/ bujukan / mempengaruhi, usaha untuk mempengaruhi tingkah laku yang diinginkan melalui identifikasi objek sosial dengan kepercayaan atau nilai-nilai yang ada pada agen peubah
    • Edukasi / pendidikan, usaha untuk mempengaruhi tingkah laku yang diinginkan oleh change target melalui internalisasi kepercayaan dan nilai-nilai baru
      Menurut Garth N Jones (Zaltman, 1972), selain ke 3 strategi diatas, ada 3 teknik yang bisa digunakan, yaitu :

      • Taktik dari tindakan penelitian, menggunakan penelitian yang merupakan manipulator dalam perubahan sosial)
      • Taktik dari Modifikasi Teknik, yaitu mengubah struktur tradisional menjadi sistem yang lebih baik
      • Taktik dari marginal, menggunakan akulturasi bilingual yang berfungsi dengan baik dalam proses perubahan karena sistim nilai yang berbagi dan innovating society

 

Selain ke 5 elemen diatas, Jones menambahkan evaluasi sebagai bagian dari proses perubahan, yang dapat memberikan masukan untuk lebih menyempurnakan perubahan menjadi lebih baik

Membangun Kesadaran Kritis Mela-lui Pendidikan

Proses pendidikan baik formal maupun non formal pada dasarnya memiliki peran penting melegitimasi bahkan melanggengkan sistem dan struktur yang ada, juga sebaliknya merupakan proses perubahan sosial yang  lebih adil. Peran pendidikan terhadap sistem dan struktur sosial tersebut sangat  bergantung pada paradigma pendidikan yang mendasarinya.
Salah satu aliran pendidikan menurut Giroux dan Aronowitz (1985) mengkategorikan pendekatan pendidikan menjadi tiga aliran, yakni pendekatan konservatif, liberal dan kritis.

Bagi kaum konservatif, ketidak sederajatan masyarakat merupakan suatu hukum keharusan alami. Perubahan sosial bagi mereka bukan sesuatu yang harus diperjuangkan, karena perubahan akan membuat manusia lebih sengsara. Untuk golongan liberal berangkat dari keyakinan bahwa memang ada masalah di masyarakat tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat, sehingga tugas pendidikan tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan politik dan ekonomi. Sedangkan untuk aliran kritis menganggap pendidikan merupakan arena perjuangan politik., menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada.

Berdasarkan analisis Freire (Mansour Fakih, 2001) implikasi ketiga pandangan terhadap metodologi pendidikan dapat ditinjau dari ideologi pendidikan dalam tiga kerangka yang didasarkan pada kesadaran ideologi, yaitu : kesadaran magis, kesadaran naif dan kesadaran kritis. Kesadaran magis adalah kesadaran masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya, dan kesadaran naif adalah kesadaran yang lebih melihat aspek manusia menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Sedangkan kesadarn kritis lebih melihat aspek struktur sebagai sumber masalah

Suatu penyelenggaraan belajar-mengajar yang merupakan proses pendidikan kritis harus mencerdaskan sekaligus bersifat membebaskan pesertanya untuk menjadi pelaku (subjek) utama, bukan sasaran perlakuan (objek) dari proses tersebut. Menurut Paulo Freire, kebebasan disini ditekankan pada kebangkitan kesadaran kritis masyarakat.Gagasan ini  berangkat dari suatu analisa bahwa sistem kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya membuat masyarakat mengalami proses “dehumanisasi”. Pendidikan sebagaimana dipraktekkan di sekolah-sekolah, sebagai bagian dari masyarakat justru pada kenyataannya menjadi pelanggeng proses dehumanisasi tersebut. Freire juga menyebutkan bahwa praktek pendidikan didunia dewasa ini sebagai “banking consept of education”. Murid dalam proses pendidikan model bank yang dipraktekkan di sekolah-sekolah lebih menjadi objek pendidikan, mereka pasif dan hanya mendengar, mengikuti, mentaati dan mencontohi para guru, Sebagai antitesis Freire mengembangkan suatu pendidikan yang tidak saja mentransformasikan hubungan guru dan murid lebih membebaskan, serta meletakkan dasar konsep pendidikan yang memposisikan justru murid sebagai subjek pendidikan dengan tidak saja memperkenalkan berbagai metodologi dan praktek hubungan pendidikan yang bersifat membebaskan, namun juga membangkitkan kesadaran kritis warga belajar terhadap ketidakadilan sistematik. Pendidikan harus melibatkan tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektisnya yang ajeg, yaitu pengajar, pelajar atau anak didik dan realitas dunia.


Pendidikan Anak Merdeka
Visi dan Misi Pendidikan Anak Mer-deka

Sekolah Dasar Hikmah Teladan  Cimahi dimana Aripin menjadi konsultan pendidikan mempunyai visi dan misi tentang pendidikan anak merdeka sebagai berikut :
Visi SD Hikmah Teladan : “Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep Pendidikan Anak Merdeka “.
Misi SD Hikmah Teladan merupakan bagian dari misi Perguruan Darul Hikmah yaitu : “ Menciptakan Lingkungan yang Kondusif bagi Pengembangan Karakter Anak Merdeka”.
Dalam mewujudkan misi ini,  komitmen yang dimiliki  :

  1. Menumbuhkan sikap tauhid anak sejak dini dan kemampuan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaannya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak.
  3. Mengokohkan pemahaman bahwa sesungguhnya belajar merupakan pemenuhan rasa ingin tahu.
  4. Menempatkan peran penting guru untuk menumbuhkan keingintahuan anak dan mengarahkannya dengan cara yang paling mereka harapkan, paling mereka minati.
  5. Mendidik anak agar belajar  berani mencoba sebagai pandangan kami pendidikan sekaligus metode pembelajaran yang dikembangkan.
  6. Menumbuhkan anak yang penuh percaya diri dan berkembang menjadi dirinya sendiri melalui pemberian rasa aman, penghindaran dari celaan dan cemoohan, serta pemberian keleluasaan untuk berekspresi dan bereksplorasi.

 

Motto Sekolah Dasar Hikmah  Teladan :
“Mendidik Anak agar Belajar Berani Mencoba

Penerjemahan Misi  ke dalam Aksi (Program Sekolah)
a. Wisata Buku

Motif terkuat yang mendorong seseorang menjalankan kegiatan belajar adalah rasa ingin tahunya. Rasa ingin tahu akan menghadapakan seseorang dengan pertanyaan dan kerinduan menemukan jawaban. Dan, jawaban diperoleh bila seseorang berusaha mencari tahu dengan jalan: 1). Bertanya kepada yang lebih tahu, 2). Mencari literatur (membaca), dan 3). Melakukan percobaan.
Ketiga jalan pemuasan rasa ingin tahu di atas, haruslah menjadi sesuatu yang mengakar dalam diri anak. Disini peran pembiasaan menjadi teramat penting.
Wisata buku adalah wahana pembiasaan anak, agar mereka terampil mengidentifikasikan rasa ingin tahunya, kemudian terampil mencari literatur yang sesuai, menggemari kegiatan belajar, dan terbiasa ‘jajan’ buku.

b. Tugas Akhir Pekan

Anak sedang dalam proses tumbuh-kembang. Ini berarti, bahwa apa yang ‘kini’ dimiliki oleh anak, tidaklah sama dengan apa yang ‘kini’ dimiliki oleh manusia dewasa. Apabila kita mampu memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaannya seiring tumbuh-kembang yang dilalui anak, maka insya Allah ‘kelak’ anak akan melampaui apa yang ‘kini’ dimiliki oleh manusia dewasa. Tepatnya, anak akan menguasai zamannya.

Kemerdekaan anak agar ia dapat menjalani kehidupan sesuai dengan fase tumbuh-kembangnya, membuat kita tidak dapat memaksa anak berpola hidup seperti keseharian orang dewasa. Bagaimanapun juga, anak harus terlatih untuk dapat bersosialisasi dengan baik, mendefinisikan hubungan kasih sayang dengan orang terdekat, atau membuat dirinya dapat peduli dengan apa yang mereka minati.

Atas dasar itulah, kita tidak dapat menghabiskan keseharian anak dengan setumpuk pekerjaan yang dapat menyita waktu anak untuk terus mengaktualkan dirinya, kecuali bila kita mampu mengakomodasi kebutuhan anak seperti disebut di atas ke dalam tugas harian mereka. Koridor inilah yang harus dipenuhi dalam pembuatan Tugas Akhir Pekan.

Perjalanan Perubahan Dan Intervensi Mewujudkan Pendidikan Anak Merdeka

Kegalauan akan Sistim Pendidikan Yang Ada

Aripin, seorang yang begitu prihatin dan tidak puas dengan pendidikan di Indonesia,  pernah kecewa dengan sistem pendidikan yang ada, dan senantiasa mencari , baik melalui buku-buku atau terjun langsung dalam lembaga pendidikan itu sendiri

…….. perjalanan karir saya sendiri di bidang pendidikan pun mulai dari situasi, apa yah.. saya balas dendam, seperti orang yang marah, tidak menerima satu situasi. Perjalanan merangkak itu saya mulai dari situasi itu. Di bidang pendidikan pun pada saat itu saya diminta di satu sekolah di Bekasi untuk menyiapkan kelulusan, itu angkatan pertama. Jadi saya sangat serius meneliti soal-soal ebtanas mulai dari tahun 96, kalau tidak salah sampai bagus. Saya itu sampai betul-betul rinci melakukan penelitian itu, jadi saya sampai memprediksi keluaran soal seperti apa dan soal terbaik kalau di ebtanas, tahun 98 disebut soal terbaik karena model-model soal baru muncul. Kalu di SD asalnya KPK sekian-sekian, mulai ada soal kalau si A berenang setiap hari, misalnya 2x dalam 1 minggu. Si B 3x, kapan mereka ketemu.

Reformasi dianggap punya kontribusi dalam pendidikan saat itu, yang dampaknya cukup berarti dalam konsep pendidikan yang dipahaminya. Saat kepercayaan mulai timbul dengan satu konsep baru, ternyata karena konsep itu tidak diterima oleh banyak orang, dan karena reformasi saat itu baru tercetus, maka sistim yang dianggap mulai membaik, malah turun kembali. Disamping itu, iklim di sekolah yang membiasakan memakai buku paket juga menggugah idealismenya
…. itu terjadi di semua mata pelajaran. Ketika itu berbarengan denga reformasi. Mulailah nilai itu jatuh secara nasional

…. karena soal-soal itu tidak dikenali oleh sekolah. Akhirnya karena itu reformasi, orang ribut membicarakan masalah itu. Hebatnya, setelah ribut ,  isi soal itu dikembalikan ke pola sebelumnya.
Ya, saya ingat ketika itu di angkot nangis membaca itu. Betapa pemerintah itu tidak bertanggung jawab. Nah, mulai dari sana saya sudah bisa mengatakan bahwa pemerintah pengecut kalau caranya seperti itu. Ia tidak melakukan perubahan yang mendasar, menyiapkan, memberikan argumentasi yang jelas. Paling banter yang tidak terjadi perubahan itu di soal bahasa Indonesia. Dari situ saya mulai ingin jalan sendiri

Pada saat bersamaan saya melihat 1 kondisi yang sama di buku-buku itu, struktur materi itu sama. Semua penerbitnya sama, cara mengelola soal, struktur materi itu sama. Ketika saya lacak itu berkaitan dengan buku balai pustaka.

Awal Perjalanan Melakukan Peru-bahan

Untungnya kekecewaan yang semakin menumpuk mendapat jalan keluar dengan adanya tawaran dari satu organisasi, yaitu Sekolah Dasar Hikmah Teladan, dimana Aripin diminta untuk menjadi konsultan pendidikan yang mempunyai visi dan misi yang menarik, yaitu membuat anak didik menjadi anak merdeka

Mulailah dari situ saya berkarir. Senangnya dalam sepanjang karir saya mulai dari nol. Di tempat kerja saya tidak bisa bicara secara konseptual dan teorotis, itu tidak terbiasa, lebih banyak menghadapi di lapangan saja. Melakukan observasi, penelitian, mengumpulkan data, dan lain sebagainya. Jadi memperbaiki sesuatu itu selalu selangkah demi selangkah dari awal.

Dalam merealisasikan suatu visi dan misi yang sebagus apapun, tidak akan bisa dicapai dalam sekejap. Perlu dilakukan strategi dan taktik yang tepat

Pertama, mereka mengatakan ingin membuat sekolah yang mengacu kepada prinsip mendidik anak merdeka, berani gagal, berani mencoba. Dari situ saya melihat ada satu prinsip yang memberikan daya tarik pada saya. Jadi, mereka juga nggakpaham harus dimaknai seperti apa prinsip tadi. Yang kedua, saya sudah mempunyai pengalaman praktis bahkan sampai ada kejadian bahwa angkatan pertama itu salah kaprah.

Jadi karena prinsip kebebasan, apa maunya anak-anak selalu diikuti. Ternyata berlangsung terus sehingga membentuk pengaruh yang negatif ke anak-anak. Daya juang anak-anak jadi rendah, tapi ekspresinya memang besar. Saya sendiri menyadari ketika berada di sini sampai nilai anak-anak itu drop, ketika mengambil materi dari luar karena memang mereka nggak pernah belajar tuntas tapi kalau komentar keberanian mereka untuk tampil, wah itu luar biasa, tapi ke materi tidak. Mereka manja dan daya juangnya lemah. Maka situasi itu masuk, posisi saya mengomentari itu. Jadi di sini orang yang paling kencang mempertahankan konsep tadi itu adalah saya. Sampai saya dengan teman-teman yang meminta datang ke sini saling bersitegang. Padahal saya bergerak dalam tataran praktis. Saya sering bisa mengkritisi kawan yang bergerak ke arah yang berbeda. Kadang-kadang saya berbenturan, saya nggak setuju tapi tidak memiliki argumentasi, sampai ketika terjadi perdebatan, saya paham semua prosesnya.

Gebrakan pertama dalam Perubahan

Aripin mulai menjalankan strategi untuk melakukan perubahan dalam merealisasikan tujuan yang diharapkan agar menjadi benar dengan menggunakan langkah awal mengganti buku paket, yang dianggap merupakan bagian yang sering menghambat dalam pendidikan

Awalnya buku paket ditiadakan. Sampai akhirnya ada orang tua yang meminta, lalu saya jelaskan dengan argumentasi dan lain sebagainya. Nah, mulai dari situlah, tapi dikhawatirkan untuk dampak dari buku-buku paket itu cukup besar. Membuat guru-guru itu malas tidakmau belajar, tinggal pakai, kadang-kadang seperti itu masih terjadi. Saya ngototnya, mereka harus bikin buku paket, diedit lagi, balik lagi, itu memakan waktu yang lama karena saya berpacu pada yang ideal bahwa itu harus lebih baik.

Sampai akhirnya memecah konflik dengan teman-teman cukup serius. Belakangan saya mulai masuk ke fase-fase kedua ketika teman-teman memprotes terus dan memojokkan saya karena LKS (lembar Kerja Siswa) yang diprotes sama orangtua jarang ada. Akhirnya sampai pada satu posisi itu diserahkan kepada mereka., tidak perlu melalui edit saya. Karena yang mambuat keterlambatan itu di saya. Ternyata ketika mereka ngerjain dalam waktu satu tahun atau satu semester teman saya ngedit semua, saya itu marah besar ke teman-teman karena mereka tidak mau kerjasama. Jadi sampai dibagi-bagi. Saya bilang buat apa kalau kalian tidak ada kerjasama, saya saja yang ngerjain sendiri. Jadi ada satu periode, saya yang ngerjain.

Suatu perubahan memang tidak mudah  untuk dilakukan, perlu satu proses yang panjang untuk mendapatkan hasil yang baik. Dengan menggunakan pendekatan lobying terhadap guru-guru untuk menganti buku paket, proses perubahan mulai berlangsung, walau mengalami banyak benturan dari agen perubah (guru)

Tapi itu juga nilai yang negatif. Pengaruhnya ke teman-teman, nggak belajar. Tapi saya tahu ketika dilempar ke teman-teman ternyata mereka nggak bisa. Saya jadi paham bahwa ternyata yang pokok itu bukan kualitasnya tapi mau tidaknya belajar. Dan itu dampaknya ke keseluruhan, mendidik budaya yang dibangun di sekolah ini.

Dulu ketika saya sering ngedit itu, manajemen kita di belakang meja. Kita itu tidak paham kalau guru menghadapi kelas ada 32 anak, 32 anak itu bisa membelokkan luar biasa. Jadi nggak bisa di belakang meja. Betul-betul ada situasi pragmatis di lapangan yang tidak kita pahami. Dari situ kita mulai bergerak masuk dan akhirnya ketemu, ternyata banyak hal yang kita sampaikan itu kenapa mentok. Dia tidak merasakan terlebih dahulu bahwa hidup demokratis itu sesuatu yang lebih enak, karena dia tidak mengalami maka dia hanya ada dalam satu posisi mengajarkan.

Tantangan dan Harapan dalam Perubahan

Salah satu tantangan dalam perubahan yang dilakukan adalah dari agen peubahnya, yaitu  harus ada penghayatan yang dalam dari konsep yang diajukan, dan ini diperoleh karena hasil evaluasi yang senantiasa dilakukan

Akhirnya, konsepnya jadi kita rubah. Kalau kita mau ngajarin praktek itu, si guru minimal harus demo di depan kita, menunjukkan dulu sikap kita kepada mereka atau ketika mereka prektek minimal kita dampingi. Begitu juga ketika mengajarkan tentang istilah kehidupan demokratis. Pada saat seperti itu kalau sudah mereka alami sendiri maka istilah ngajar dari hati ke hati itu kena di situ. Ternyata yang bisa mempengaruhi itu cukup besar, ketika saya tiap minggu ketemu.

Dibutuhkan forum grup diskusi bagi para  agen perubah , yang   dilakukan dalam forum yang non formal. Pemilihan suasana ini ternyata lebih cocok dibandingkan pertemuan yang formal. Adanya sistim reward tak langsung juga merupakan bagian yang mendukung dalam proses perubahan

Ada dialog dengan forum dan itu bukan forum formal, forum santai. Jadi kalau ada satu yang baik dari satu kelas, saya pelajari. Ternyata itu cukup memberikan pengaruh kepada saya. Jadi forum itu namanya forum paralit, itu menjadi media yang menurut saya sangat bahagia mengalami kehidupan demokratis itu di situ. Di situ kita kerap membicarakan yang baru, kalau ada satu yang positif, tugas saya itu menggelembungkannya. Ini jadi ruang kreatifitas di antara guru. Situasi ini dimungkinkan karena saya ini  selalu memaksa ada tempat yang tidak jelas. Yang tidak jelas, atau mungkin wilayah tidak bertuan. Pokoknya, yang teman-teman semua bisa mencurahkan diri. Kalau di mata pelajaran itu Bahasa Indonesia. Di sini Bahasa Indonesia wajib, nggak boleh pakai kurikulum karena nggak pakai kurikulum, guru itu harus berpikir sesuatu yang baru

.

Kalau tidak ada ruang itu, mereka tidak pernah begitu. Kalau anak-anak itu menjadi anak-anak yang terampil mengekspresikan originalitas diri, otensitas diri, guru juga harus punya ruang seperti itu. Itu merupakan satu hal yang indah dan mulai menghapus masa lalu saya sedikit demi sedikit.

Selain perubahan dengan buku paket, ada satu perubahan yang besar dalam pelaksanaan kurikulum di SDHT ini, yaitu dengan dihapuskannya pelajaran agama . dan menggantinya dengan pelajaran akhlak, disertai sistim pelajarannya yang menjauhkan atas prinsip dogma

Di SDHT itu, anak-anak setiap hari pakai kerudung. Tapi betul, kalau di sini disebut tidak ada pelajaran agama. Kalau kerudung itu karena kesepakatan dari orangtua. Jadi belum ada peraturan sekolah. Pelajaran agama itu awalnya ada, tapi terpengaruh oleh masa lalu saya yang saya khawatir dengan doktrin, dogma. Ada sekolah-sekolah alternatif, justru lebih bahaya lagi. Saya ingin ceritakan sedikit betapa takutnya saya dengan dogma.

Anak masuk ke sekolah Islam, dan banyak yang orangtuanya nggak pakai kerudung. Ini permasalahannya, di sekolah pakai kerudung, di rumah nggak.

Permasahannya nilai yang cakupannya hukum yang universal itu menjadi hanya di sekolah saja, di rumah nggak. Ya, itu pikiran saya. Saya sih tidak mau bikin orangtua tersesat saja.
Tantangan lain adalah bagaimana guru sebagai agen peubah dapat menerapkan perilaku akhlak sesuai dengan porsi anak didik, Anak-anak itu kalau salat, bikin keributan, itu biasanya dihukum, hadits dikeluarkan oleh guru. Kata saya, kamu ini benar-benar nggak rasional, anaknya wajib saja belum, sudah dikenai seperti itu. Kalau kamu, iya. Tapi nilai intropeksi diri sebagai lembaga, sebagai pribadi itu lemah karena seperti itu. Kalau orang yang nggak kuat, punya satu kelebihan itu jadi satu kebanggaan yang dieksploitasi. Guru juga belum tentu khusyu’, tapi melihat yang lemah, dia ingin nunjukin. Akhirnya salat di sini (anak-anak) itu hanya sebagai pengantar untuk hafalan. Saya inginnya dahulukan akhlak. Tapi juga akhlak itu tidak boleh normatif. Akhlak harus diajarkan kasuistik, ada kasus apa diangkat, guru ngambil tansil, analogi.

Perubahan menjadi anak merdeka memang belum sepenuhnya berhasil, karena selain dari keinginan yang besar dari guru, dunia luar pendidikan juga acapkali banyak mempengaruhi jalan yang sedang ditempuh . Banyak yang belum memahami bahwa dunia anak sangat spesifik
… ujian nasional itu tidak termasuk agama. Apalagi kalau sekarang cuma tiga mata pelajaran. Tapi itu bisa dimanipulasi semuanya. Tidak perlu khawatir. Jadi kalau melihat kapasitasnya dari otak saja, sangat tidak pernah ada. Kita ini dihadapkan keterbatasan yang sangat banyak. Mengapa pada masa anak-anak disebutkan pertumbuhan otak sangat tinggi, sangat pesat karena dunia anak adalah dunia bermain. Karena bermain bisa mengungkapkan keterbatasan. Nah, kita tidak mempercayai itu, bu. Si guru itu kalau menghadapi anak sebetulnya hilangkan pretensi untuk memberikan. Nah, nanti ketika anak melihat keseragaman jadi dia sudah punya sesuatu penilaian tentang dirinya. Proses ini yang tidak dilakukan di sekolah. Tapi kalau sekarang mengajarnya membaca, maka pada saat itu akan mulai dipilah.

Harus deteksi sendiri tapi nggak perlu dipermasalahkan. Kalau secara psikologis anak sudah oke, nyaman untuk belajar, tidak ada hak dari guru, masalah akademis itu masalah yang sangat mudah.

Guru harus dididik dan diprogram dulu tapi tetap saja ada orang yang bawaannya susah. Tapi ternyata labeling yang paling berbahaya bukan dari guru tapi dari teman anak. Karena proses belajar tercepat  melalui pertemanan. Kalau sudah labeling itu kena pada mereka, itu sangat bahaya. Nah, untuk menghilangkan labeling ke anak, kalau guru mengajarkan itu tidak boleh hitam putih.

Walaupun perubahan sudah mulai terlihat,  ternyata masih dibutuhkan usaha dan ketekunan untuk merealisasikan seperti harapan yang diinginkan. Sementara perubahan belum sepenuhnya terealisir, tantangan dari dalam sendiri sangtat besar. Tetapai harapan dan keyakinan Aripin selalu ada.
Kuncinya, nggak tahu, yah. Saya baru beberapa bulan ini secara resmi menyampaikan pengunduran diri dari sini, tidak diterima tapi karena sudah, apa yah.. sudah lelah mungkin. Guru di sini itu betul-betul ada yang mengusahakan, berupaya untuk mengusir saya. Kalau saya ingin lepas sebetulnya ingin belajar.

Bagaimana harapan di Indonesia sendiri? Aripin tidak begitu optimis, mengingat birokrasi pendidikan di Indonesia begitu tidak menjanjikan
Ya, kalau untuk Indonesia harus hancur dulu saja..

Pendidikan itu sama, BSMP yang mau mengeluarkan kurikulum baru, pemerintah itu seakan-akan kurikulum itu sudah mau dinyatakan resmi. Karena ada peraturan pemerintah yang mengatakan kewenangan pemerintah itu sampai penyusunan kurikulum, maka BSMP itu merubah akan ribut ada kurikulum 2006 itu di situ dan itu seluruh  prosedur pembuatan itu dilalui. Dua-duanya berbasis kompetensi. Birokrasi itu sampai ke format-format pendidikan. Nah, konsep baru yang dikembangkan di sini adalah magang. Itu selama tiga minggu dan itu dari komunitas gereja, itu benar-benar kalau kata mereka melelahkan.

Pembahasan

Apa yang telah dilakukan Aripin adalah suatu tindakan kepedulian terhadap sistem pendidikan yang dirasakan sejak awal meresahkan dirinya. Pengaruh sikap dan tingkah laku Aripin yang idealis sering berbenturan dengan sistem yang berlaku, tetapi selalu ada tempat bagi orang-orang yang peduli.Dengan tawaran dari SDHT untuk membangun konsep pendidikan anak merdeka merupakan jalan untuk membuktikan bahwa ada satu sistem pendidikan yang dapat membangun anak menjadi kritis. Pendidikan anak merdeka membawa kearah pendidikan kritis sejalan dengan pendapat Freire, yaitu suatu penyelenggaraan belajar-mengajar yang merupakan proses pendidikan kritis harus mencerdaskan sekaligus bersifat membebaskan pesertanya untuk menjadi pelaku (subjek) utama, bukan sasaran perlakuan (objek) dari proses tersebut. Perubahan yang dilakukan Aripin sesuai dengan apa yang berlaku pada perubahan sosila pada umumnya, yaitu :

  1. Ada penyebab, yaitu keinginan dari pengurus yayasan Kerlip di SDHT yang menginginkan satu sistim pendidikan yang agak berbeda dengan konsep anak merdeka

  2. Ada tujuan dan target yang ingin dicapai dari SDHT, yaitu menjadikan anak sukses dengan pendidikan anak merdeka. Dengan visi dan misi yang jelas dan hal-hal yang harus disiapkan serta langkah-langkah yang harus dilaksanakan, maka perilaku dari muri-murid bisa diubah sesuai dengan tujuan dan target yang diinginkan.

  3. Guru-guru yang disiapkan untuk merealisasikan program anak merdeka, merupakan agen pengubah. Dengan konsep yang dibuat Aripin, maka para guru diharapkan untuk menjadi agen peubah yang sesuai dengan tujuna program

  4. Strategi yang dilakukan Aripin diawali dengan teknik merubah modifikasi, yaitu memuat aturan meniadakan buku paket. Para agen peubah disiapkan untk membuat paket yang lebih sesuai, dengan memasukkan juga penjiwaan dalam pembuatan dan pelaksanaan. Ini tidak mudah, karena para guru sudah terbiasa dengan paket yang selalu disediakan, dan belum memahami sendiri arti dari kata jabaran pendidikan anak merdeka. Dalam proses perubahan dipakai teknik lobying terhadap agen peubah dan target yang akan diubah, Pertemuan grup diskusi secara non formal lebih bisa mendekatkan antara Aripin dengan guru, orang tua dan murid. Sistim Reward terhadap program dari guru yang berhasil, juga memacu para guru lain untuk lebih berpartisipasi lebih baik

  5. Evaluasi, senantiasa dilakukan, Butuh waktu agar suatu perubahan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan. Program yang dibuat seringkali harus dievaluasi, sehingga akhirnya bisa didapat program yang lebih baik, yang dapat diterima segala pihak

 

Kesimpulan dan Saran

Program intervensi yang telah dilakukan Aripin adalah suatu bentuk perubahan sosial dari suatu kelompok, dimana elemen-elemen yang terkait saling mempengaruhi. Dimulai dari pengubah yang melahirkan tujuan dari konsep anak merdeka, maka Aripin berusaha membuat strategi untuk para agen peubah (guru) dan target perubahan (anak murid) yang diharapkan akan ada perubahan perilakunya, . Walaupun strategi ini masih belum sempurna, diharapkan dengan tekad yang besar dan keterbukaan dari para agen peubah dapat merealisasikan konsep pendidikan anak merdeka. Konsep anak merdeka sejalan dengan konsep Freire ,yang mengenalkan penyelenggaraan belajar-mengajar yang merupakan proses pendidikan kritis yang harus mencerdaskan sekaligus bersifat membebaskan pesertanya untuk menjadi pelaku (subjek) utama, bukan sasaran perlakuan (objek). Perubahan perilaku sudah mulai terlihat dati perilku para guru dalam menyiapkan materi dan para murid yang dapat berekspresi dengan bebas mengeluarkan kreativitasnya, dan tidak  takut bertanya.

Dari kegiatan Aripin, terlihat sikap dan perilaku sangat mempengaruhi dalam pendekatan sosialisasi program dan agen peubahnya, Sikap idealis Aripin memberi warna yang baik pada pembentukan program. Dipihak lain, sikap yang tidak pernah puas, dapat memberi jarak terhadap langkah-langkah para peubah. Pencarian Aripin terhadap kepuasan akan sistim pendidikan juga harus diimbangi dengan ketrbukaan diri akan perubahan sikap. Sedangkan untuk organisasi itu sendiri, perlu ada satu konsolidasi yang lebih kuat, agar para guru mau dan bisa mendukung sepenuhnya program anak merdeka ini. Komponen guru, anak didik dan dunia luar saling tidak bisa dipisahkan. Dengan bersatunya kesepahaman guru dan anak didik, setidaknya lebih memudahkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan

Referensi:
John Edwards, R. Scott Tindale, Linda Heath, and Emil J Posavac, “Social Influence Processes and Prevention”, Plenum Press, NewYork and London, 1990.

Linda Beth Tiedje, “Processes of Change in Work/Home Incompatibilities : Employed Mothers”, Journal of Social Issue, vol 60, No 4, 2004.

Mansour Fakih, “Pendidikan Populer: Membangun Kesadarn Kritis”, Reads Books, INSIST dan PACT, Indonesia, 2002.

Robert A Baron, Donn Byrne, “Psikologi Sosial”, Jilid 1 & 2, Penerbit Erlangga, 2003.

Stuart Oskamp, P Wesley Schultz, “Applied Social Psychology”, Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey; 1998.

Zaltman & k    Kotler, “Creating Social Change”, Holt, Rinehart and Winston Inc, New York, 1972.

Share
  • Comments
  • Trackbacks
Leave a Reply

2017 © Universitas Esa Unggul
Social Media Icons Powered by Acurax Wordpress Development Company