Kesiapan Teknologi Atas Penggunaan Jasa Perbankan Berbasis Teknologi

Kesiapan Teknologi Atas Penggunaan Jasa Perbankan Berbasis Teknologi

Share


Download


M. Ali Iqbal, M.Sc.
Dosen Fakultas Ekonomi
Universitas Esa Unggul, Jakarta
ali.ikbal@yahoo.com

Globalisasi yang terjadi pada saat ini telah membawa dampak nyata terhadap perekonomian suatu negara. Salah satu dari dampak nyata tersebut adalah dengan berkembangnya teknologi. Perkembangan teknologi ini telah membawa aktivitas yang besar pada aktivitas pemasaran. Di dalam pemasaran jasa perbankan misalnya telah banyak pelayanan yang dilakukan jasa perbankan tersebut dari bentuk operasional manual menjadi model swalayan yang otomatis. Misalnya munculnya teknologi internet dan automatic teller machine (ATM) pada dunia perbankan. Teknologi semacam ini disebut sebagai self service technology (SST), yaitu teknologi penghubung yang memungkinkan konsumen melakukan proses pelayanan jasa secara mandiri dan bebas dari pelayanan langsung oleh karyawan penyedia jasa (Meuter et.al 2000).

Di dalam teknologi ini, telah banyak penelitian terhadap suksesnya SST dalam berbagai bidang bisnis. Howard dan Worboys (2003) mengatakan bahwa SST yang berbasis teknologi telah memberikan keuntungan bagi pelanggan dan produsen. Kecepatan dan kemudahan dalam mem-peroleh pelayanan adalah keuntungan bagi pelanggan, sementara itu penurunan biaya pelayanan karena menghilangkan interaksi dengan manusia adalah keuntungan bagi perusahaan. Meuter et al. (2000) menga-takan bahwa swalayan yang berbasis pada interaksi pelanggan melalui bisnis ini telah menjadi kriteria kunci dalam membangun kesuksessan jangka panjang. Hal ini terbukti dari pertumbuhan jumlah penduduk atau jasa berbagai teknologi dan pertumbuhan peranan teknologi dalam interaksi pelang-gan-produsen yang sangat pesat di awal abad 21 ini (Parasuraman, 2000; Howard dan Worboys, 2003). Internet banking ataupun mobile banking adalah salah satu jenis tek-nologi SST yang dioperasikan oleh dunia perbankan. Dengan swalayan tersebut pelanggan dapat melakukan berbagai jenis transaksi seperti penarikan uang tunai, transfer dana, pembayaran berbagai reke-ning, pembelian pulsa telepon seluler, mengecek saldo dan lain sebagainya. Menurut Chang (2002) ada dua hal penting yang melandasi diimplimentasikannya tek-nologi SST ini yaitu memberikan kenyamanan pelanggan dalam bertransaksi dan memupuk loyalitas pelanggan.

Peran teknlogi dalam interaksi perusahaan-pelanggan serta kemajuan teknologi baik itu produk maupun jasa telah berkembang dengan pesat. Banyak teknologi yang memberikan servis (pelayanan) dilaksa-nakan sendiri oleh pelanggan tanpa mela-kukan kontak langsung maupun tidak langsung dengan orang-orang di perusahaan tersebut. Perkembangan teknologi telah membawa dua trend jangka panjang dalam dunia bisnis yaitu (i) perpindahan perekonomian dari sektor barang (produk) ke sektor jasa dan (ii) perkembangan yang begitu cepat informasi ekonomi dan jejaring elektronik (Rust 2001).

Pertanyaannya adalah mengapa sebagian orang dapat menerapkan teknologi baru, sementara itu sebagaian orang lainnya tidak dapat menerapkan tek-nologi baru. Untuk itu penelitian ini mengkaji kesiapan teknologi terhadap pelayanan jasa perbankan. Oleh karena itu, perlu mengkaji hubungan antara kesiapan teknologi berdasarkan unsur demografi (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan penghasilan dan adopsi teknologi pada saat ini dan di masa mendatang.Untuk menjawab pertanyaan diatas, maka dilakukan penelitian kepada sebanyak 75 orang responden mahasiswa Universitas Indonesia dan karyawan Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi, Departemen Kelautan dan Perikanan yang pernah menggunakan teknologi SST. Untuk mengkaji beberapa peggunaan jasa yang menggunaan teknologi SST seperti SMS, internet banking, mobile banking, on line store dan jasa-jasa internet lainnya.

Kesimpulan

Di dalam mengkaji kesiapan tek-nologi berdasarkan unsur demograpi (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pengeluaran), terlihat bahwa eksplorer ditempati oleh laki-laki dengan usia berkisar 25-34 tahun, pendidikan S1, pengeluaran antara 1,5-5 juta perbulan. Tipe klaster ini menggunakan layanan SMS dan ATM lebih dari 50% pada penggunaan teknologi saat ini dan akan berencana menggunakan akses e-mail untuk menerima dan mengirim pesan serta akses e-mail untuk mencari berita lebih dari 50% untuk layanan teknologi dimasa datang.

Jenis kelamin laki-laki juga menem-pati klaster skeptics yaitu dengan usia berkisar 35-44 tahun, pendidikan S2, penge-luaran antara 3,1-5 juta perbulan. Tipe klaster ini menggunakan layanan SMS dan ATM lebih dari 50% pada penggunaan teknologi saat ini dan hanya akan berencana menggunakan akses e-mail untuk menerima dan mengirim pesan lebih dari 50% untuk layanan teknologi di masa datang.

Pioneers ditempati oleh wanita dengan usia lebih dari 45 tahun, pendidikan S2, pengeluaran antara 3,1 – 5 juta perbulan. Tipe klaster ini menggunakan layanan SMS dan ATM lebih dari 50% pada penggunaan teknologi saat ini dan akan berencana menggunakan akses e-mail untuk menerima dan mengirim pesan serta akses e-mail untuk mencari berita lebih dari 50% untuk layanan teknologi dimasa dating.

Wanita juga menduduki tempat klaster paranoids dan laggards. Untuk paranoids usianya berkisar 16-24 tahun, pendidikan S1, pengeluaran antara 1,5-3 juta perbulan. Tipe klaster ini hanya menggunakan layanan SMS lebih dari 50% pada penggunaan teknologi saat ini dan tidak mempunyai rencana menggunakan teknologi lainnya dimasa mendatang.

Saran

Agar pengukuran kesiapan teknologi dapat mewakili pelanggan layanan teknologi secara keseluruhan, maka jumlah sampelnya perlu ditingkatkan dan penyebaran sam-pelnya dikembangkan lagi, tidak hanya kepada mahasiswa dan karyawan Dep. Kelautan perikanan tetapi juga kepada karyawan perusahaan jasa dan industri lainnya.
Karena keterbatasan waktu, pene-litian ini tidak membagi jenis kelamin secara proporsional (laki-laki 50% dan wanita 50%), untuk itu dalam penelitian lebih lanjut yang menyangkut aspek demograpi proporsi keduanya ini harus seimbang, sehingga hasil penelitiannya juga akan menjadi lebih baik.

Hasil klaster analisis menunjukkan bahwa eksplorer ditempati oleh laki-laki dengan usia berkisar 25-34 tahun, pendidikan S1, pengeluaran antara 1,5-5 juta perbulan. Untuk itu perusahaan dapat memasuki segmen ini pada tahap penge-nalan produk baru pada siklus daur hidup produk kemudian dilanjutkan ke segmen pioneers. Sedangkan untuk memasuki seg-men skeptics, laggard dan paranoid sebaiknya diperuntukkan bagi pasar yang telah dewasa dalam siklus daur hidup produk.

Referensi

Chang, Ai-Mei and P. K. Kannan, ”Preparing for Wireless and Mobie Technologies in Government”, IBM Center for the Business of

Government, available at http:\www.business of government. org/publications_Grant Details.asp? GID = 118., 2002.

Curran, J. M., Meuter, M. L., and Surprenant, C. F, “Intention to use self-service Technologies: A Confluence of Multiple Attitude”, Journal of Service Marketing, 5 (No. 3), 209-224, 2003.

Gutek, B. A. dan T. K. Bikson, “Differential Experiences of Men and Women in Computerized Offices”, Sex Roles, 13 (3/4), 123-136, 1985.

Harrison and R. K. Rainer Jr, “The Influence of Individual Differences on Skill in End-User Computing”, Journal of Management Information Systems, 9 (1), 93-111, 1992.

Howard, M., and Worboys, C, “Self Service-Contradiction in term or Customer-led Choice?”, Journal of Consumer Behaviour, 2 (No.4) 382-392, 2003.

Igbaria, M and S. Parasuraman, “A Path Analytic Study of Individual Characteristics, Computer Anxiety, and Attitude toward Microcomputers”, Journal of Management, 3, 337-388, 1989.

Maholtra, N. K, “Marketing Research”, fourth edition Pearson Educational International, 1999.

Majchrzak, A. and J. Cotton, “A Longitudinal Study of Adjustment to Technological Change: From Mass to Computer-Automated Batch Production”, Journal of Occupational Psychology, 61, 43-66, 1988.

Meutter, L. M., Ostrom, A.L., Roundtree, R. L., and Bitner, M. J, “Self Service Technology: Understanding Customer Satisfaction with Technology-Based Service Encounter”, Journal of Marketing. 64 (No.3) 50-64, 2000.

Nelson. D. L, “Individual Adjustment to Information Driven Technologies: A Critical Review”, MIS Quartely, 14 (1), 79-100, 1990.

Nickel, G. S. and J. N. Pinto, “The Computer Attitude Scale” Computers in Human Behaviour, 2, 301-306, 1986.

Parasuraman, A. (2000). “Technology Readiness Index (TRI): Multiple Item Scale to Measure Readiness to Embrace New Technologies”, Journal of Service Research, 2 (No. 4) 307-320.

Raub, A. C. (1981). Correlates of Computer Anxiety in College Students,” doctoral dissertation. University of Pennsylvania, Phladelphia.

Rust, Roland, “Editorial : The Rise of E-Service”, Journal of Service Research, 3 (4), 283-84, 2001.

Zinkhan, G. M., E. A. Joachchimsthaler, and T. C. Kinnear, “Individual Differences and Marketing Decision Support System Usage and Satisfaction”, Journal of Marketing Research, 24 (2), 208-214, 1987.

Zmud, R W, “Individual Differences and MIS Success: A Review of Empirical Literature”, Management Science, 25 (10), 966-979, 1979.


-- Download Kesiapan Teknologi Atas Penggunaan Jasa Perbankan Berbasis Teknologi as PDF --


Share
  • Comments
  • Trackbacks
Leave a Reply

2017 © Universitas Esa Unggul